Tim Arsitek: Nathanael Roessli Hide ListExpand List
Berada di Sleman, DI Yogyakarta, Agni House hadir sebagai respon arsitektural terhadap kebutuhan ruang hunian yang padat fungsi namun tetap menyisakan ruang untuk bernapas—secara harfiah maupun emosional. Dibangun di atas lahan seluas 237 m² dengan luas bangunan 172 m², rumah satu lantai ini dilengkapi mezzanine yang secara strategis menambah kapasitas ruang tanpa memperbesar tapak. Zonasi ruang pada Agni House dirancang dengan prinsip pemisahan fungsi yang jelas dan efisien. Ruang keluarga, ruang makan, dan dapur bersih diletakkan dalam satu zona terbuka yang menghadap ke taman belakang, menghadirkan koneksi visual dan spasial dengan alam luar sekaligus memungkinkan sirkulasi udara silang serta pencahayaan alami yang optimal—dua hal esensial dalam konteks iklim tropis.
Sebaliknya, area servis seperti dapur kotor, ruang cuci, ruang pilah sampah, hingga kandang ayam, diposisikan terpisah dari area utama. Keputusan ini bukan sekadar fungsional, tapi juga mencerminkan kesadaran akan pentingnya kebersihan, kenyamanan, serta keberlanjutan dalam keseharian penghuni. Fasad rumah tampil ekspresif melalui permainan geometris—persegi, lingkaran, dan segitiga—yang dirangkai menjadi elemen visual yang kuat namun tetap proporsional. Kombinasi material seperti beton ekspos, roster beton, kisi kayu, dan panel metal menciptakan kedalaman komposisi serta memperkaya pengalaman visual dari jalan.
Di balik atap miring berwarna gelap yang menaungi carport dan teras, terdapat mezzanine yang difungsikan sebagai ruang kerja atau aktivitas produktif lainnya. Penambahan ini memperluas potensi ruang tanpa mengorbankan lahan, menawarkan fleksibilitas fungsional dalam batasan footprint yang tetap. Agni House membuktikan bahwa rumah tinggal tak harus besar untuk terasa lapang. Ia menawarkan ruang hidup yang hangat, bernapas, dan jujur dalam ekspresinya namun membumi.
Agni House
Hide ListExpand List
Berada di Sleman, DI Yogyakarta, Agni House hadir sebagai respon arsitektural terhadap kebutuhan ruang hunian yang padat fungsi namun tetap menyisakan ruang untuk bernapas—secara harfiah maupun emosional. Dibangun di atas lahan seluas 237 m² dengan luas bangunan 172 m², rumah satu lantai ini dilengkapi mezzanine yang secara strategis menambah kapasitas ruang tanpa memperbesar tapak. Zonasi ruang pada Agni House dirancang dengan prinsip pemisahan fungsi yang jelas dan efisien. Ruang keluarga, ruang makan, dan dapur bersih diletakkan dalam satu zona terbuka yang menghadap ke taman belakang, menghadirkan koneksi visual dan spasial dengan alam luar sekaligus memungkinkan sirkulasi udara silang serta pencahayaan alami yang optimal—dua hal esensial dalam konteks iklim tropis.
Sebaliknya, area servis seperti dapur kotor, ruang cuci, ruang pilah sampah, hingga kandang ayam, diposisikan terpisah dari area utama. Keputusan ini bukan sekadar fungsional, tapi juga mencerminkan kesadaran akan pentingnya kebersihan, kenyamanan, serta keberlanjutan dalam keseharian penghuni. Fasad rumah tampil ekspresif melalui permainan geometris—persegi, lingkaran, dan segitiga—yang dirangkai menjadi elemen visual yang kuat namun tetap proporsional. Kombinasi material seperti beton ekspos, roster beton, kisi kayu, dan panel metal menciptakan kedalaman komposisi serta memperkaya pengalaman visual dari jalan.
Di balik atap miring berwarna gelap yang menaungi carport dan teras, terdapat mezzanine yang difungsikan sebagai ruang kerja atau aktivitas produktif lainnya. Penambahan ini memperluas potensi ruang tanpa mengorbankan lahan, menawarkan fleksibilitas fungsional dalam batasan footprint yang tetap. Agni House membuktikan bahwa rumah tinggal tak harus besar untuk terasa lapang. Ia menawarkan ruang hidup yang hangat, bernapas, dan jujur dalam ekspresinya namun membumi.